Tuesday, November 26, 2013

….terkadang dunia mencoba melemahkan kita



Terkadang dunia memang mencoba melemahkan daya kita… kita memang bukan apa-apa dibanding dunia yang sangat besar ini. Dan sangat mungkin dengan mudah dunia berlaku tidak adil pada kita yang bukan apa-apa…
Tapi tahukah Tuhan adalah tetap sutradara yang hebat…
Hidup itu tak lebih dari sebuah perjalanan menuju ke suatu tempat. Sesimpel perjalanan dari kebumen ke purwokerto misalnya… dan setiap orang yang menjalaninya tidak akan punya cerita yang benar-benar sama. Sekalipun kita berangkat dari tempat yang sama, menggunakan kendaraan yang sama, melihat pemandangan yang sama, tetap saja takdir orang selalu berbeda. Si A melewati jalan yang lurus dengan pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, tanpa melewati jalan berbatu dan akan dengan mudah sampai ketempat tujuan. Si B mungkin melewati jalan yang naik-turun dan berhadapan dengan resiko  jalan licin yang mungkin mengancam nyawanya namun ketika sampai di tanjakan tertinggi dia bisa melihat laut yang indah dari kejauhan. Si C melewati jalan terjal berliku, penuh rintangan, macet, panas, namun tanpa harus berlama-lama si C segera sampai ketujuan. Ada lagi si D yang melewati jalan yang sangat lurus, tanpa rintangan, tanpa pemandangan, dan gak sampai-sampai. Jadi setiap orang memiliki kapasitas yang sama dalam menjalani hidup. Tinggal ada di bagian mana rintangan itu muncul dan sampai seberapa kuat dia menghadapi untuk sampai di tempat tujuan. Sebersih apapun manusia itu, dia tidak mungkin tidak pernah gagal.  Tinggal bagaimana dia berhanti menangis, membersihkan lukanya, lalu kembeli berlari.
Oke, jadi aku adalah salah satu dari si A,B C dan D diatas. Namun aku sendiri gak tau di posisi mana aku aku sebenarnya. Aku memulai tugas akhirku sebagai mahasiwa setahun yang lalu. Yah tepat setahun lebih 2 minggu yang lalu. Dengan optimism tinggi aku yakin bisa lulus cepat dan membanggakan orang tua. Namun ternyata aku menjadi si A awalnya. Sampai beberapa bulan berlalu, aku menjadi si C, dan pada akhirnya aku hanya menjadi si D dan harus puas bisa lulus dengan waktu yang pas hampir setahun dari awal aku memulai tugas akhir. Bagi sebagian mahasiswa skripsi adalah bagian terberat saat tugas akhir. Aku menyadarinya. Namun untungnya aku gak terjebak seperti kebanyakan mahasiswa yang lain. Tiga minggu. Menyelesaikan skripsi dalam tiga minggu dalah hal paling ‘dewa’ yang pernah tercatat dalam hidup seseorang, meskipun ada yang Cuma 2 minggu. Tapi dalam 3 minggu inilah aku berjuang tanpa kenal malu ngejar dua dosen pembimbingku. Entah karena bosan ketemu aku, atau saking kasihannya aku, akhirnya aku bisa pendadaran meskipun waktunya udah injury time. Dan aku lulus pada babak perpanjangan waktu. Aku gak tau apa artinya perjalananku tempo hari. Bahkan ketika salah seorang dosen pembimbingku ngomong, “Selamat ya kamu sudah lulus. Ternyata Tuhan mendengar doamu. Dan ternyata apa kata Tuhan sesuai dengan keinginanmu. Semoga kamu lekas dapat pekerjaan ya. Kamu sudah menjalani skripsi dengan mudah. Mungkin saja kesulitan  bisa datang saat kamu mendapatkan pekerjaan nanti. Apapun itu, selalu turuti apa kemauan Tuhan. Karena apa yang Tuhan mau pasti yang terbaik buat kamu.”
Dari perkataannya yang sangat bijak itu sedikit sih tercium ancaman. Sangat lekat dikepala waktu siang itu sambil meneguk beras kencur-nya dosenku tersenyum. Yah aku sadar bahwa memang ini semua mungkin adalah ‘bayaran’ atas tiga minggu yang hebat itu. Sampai hari ke 28 aku dinyatakan menjadi sarjana aku masih menganggur.  Yak menganggur! Hanya dirumah, membantu pekerjaan rumah, setelah itu menonton acara tivi kabel sampai bosan, sorenya melanjutkan pekerjaan rumah.. malamnya menonton acara tivi kabel lagi… lalu menulis malamnya. Setelah itu tidur lebih awal seperti anak sekolah… bangun pagi dan mengerjakan hal yang sama.. selalu seperti itu.
Dalam tiga minggu yang misterius itu banyak yang terjadi. Termasuk apa yang kubayangkan semua menjadi kenyataan… dan tahukah segala sesuatu yang didapatkan tidak ada yang Cuma-Cuma. Sepertinya sekaranglah aku harus membayar semuanya…  apapun yang aku dapat saat kemarin haruskah aku bayar sekarang? Seandainya aku boleh berunding, mungkin aku mau skripsiku lebih lama tapi setelah lulus aku langsung bisa dapat pekerjaan, tapi aku sudah menghabiskan lebih dari setahunku untuk mempersiapkan penelitian. Apakah harus aku menambah waktu yang terbuang itu sekarang? Rasanya gak adil… yah sekali lagi, hidup itu terlalu singkat untuk dihabiskan berunding dengan Tuhan. Tidak ada waktu untuk menyalahkan orang lain, yang harus dilakukan adalah putuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Sejujurnya aku terlalu banyak memilih.. memilih-milih pekerjaan. Itulah kesalahan yang mungkin saat ini membuatku terperosok oleh perkataanku sendiri. Ketika teman-teman sudah keterima kerja, bahkan teman terdekatmu sudah mendapatkan pekerjaan dan kamu masih saja menonton tivi kabel setiap hari sampai bosan? Saat itulah kamu merasa sendiri. Yah meskipun pekerjaan itu memang bukan yang kita inginkan. Kata papah ‘kamu mendahului kehendak Tuhan’. Aku bukan mendahului kehendak Tuhan! Aku Cuma pemilih. Baiklah, entah semua perkataanku saat itu diamini malaikat atau bagaimana, tapi mulai saat ini aku akan lebih berhati2 dalam bicara dan meminta pada Tuhan. Bicara yang baik-baik saja… meminta yang baik-baik saja…
Benar gak ya kalo sesungguhnya kita ini belum siap dengan dunia yang seperti ini?
Bener juga kata salah seorang kakak kosku kalo, dunia yang sesungguhnya baru aja dimulai setelah kamu lulus. Sejujurnya aku masih menikmati kehidupanku jadi mahasiswa. Mungkin aku masih malas keluar dari zona nyamanku. Punya banyak teman dan sahabat, main-main, jalan-jalan, karaoke, nongkrong di kaki lima, menikmati praktikum dan kuliah, bergaul mengenal satu-sama lain, kakak angkatan, adik angkatan, dosen, tukang kebun kampus mungkin…
Jujur aja , aku belum pernah merasa secinta ini dengan hidup. Aku suka kampusku. Padahal dulu, aku harus nangis buat masuk kesana, karena jurusan ini buka pilihanku tapi orangtuaku. Aku mencintai kampusku, yang berlantai tiga tampak kokoh dan terlihat megah meskipun bangunan disekitarnya berlomba-lomba untuk berlantai lebih dari dua. Entah tapi dimataku kampusku tetap yang paling mewah dan megah. Aku suka jalan raya di depan kampusku yang selalu ramai. Selalu ramai kendaraan mahasiswa yang berlomba-lomba berangkat pagi. Ramai pedagang makan malam kalau sudah beranjak maghrib.
Menyukai rindangnya pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan kampus, keramahan warga sekitar, ibu tukang jualan nasi uduk dibelakang kampus misalnya…
Menjadi penonton dan penikmat itu tidak benar-benar menyenangkan lho…
Seperti aku, menonton sahabat terdekat pergi satu-persatu mendapatkan pekerjaan, sedangkan diri sendiri belum. Sedih rasanya. Semua lamaran sudah dikirim, ada beberapa yang di follow up, tapi lebih banyak yang tanpa kabar. Ada beberapa yang memanggil untuk  interview, tapi tidak pernah lolos. “Sabar ya, semua pasti datang di waktu yang tepat”, “semua itu indah pada waktunya”. Kata-kata itu yang sering keluar dari teman-teman atau saudara yang entah tulus atau basa-basi menyampaikan simpatinya. Beberapa bulan lalu kata-kata itu masih jadi penyemangat. Beberapa minggu belakangan kata-kata itu jadi makin kebal di telinga. Mau sampai kapan? Sampai kapan kalian terus menerus bilang seperti itu? Sampai kapan telinga ini menerima kata-kata semacam itu? Kata-kata barusan memang bagus, tapi gak mau membuat terlena. Karena semua kesuksesan harus dimulai sedini mungkin kan? Saya adalah orang yang menganut paham bahwa “mulailah sukses sedini mungkin, kalau gagal kita masih punya waktu untuk memperbaiki, kalau berhasil kita punya banyak waktu untuk menikmati”. Dan yang saya lakukan sekarang solah olah bukan berusaha tapi hanya membuang waktu.
Sampai mucul pemikiran bahwa mungkin aku terlalu bodoh sampai-sampai gak dapat-dapat kerja. Berdoa siang malam, shalat wajib-sunnah, tapi belum juga ada jawaban dari Tuhan. Target sudah dipasang, pokoknya harus dapat kerjaan sebelum tahun depan. Dan sekarang sudah hampir habis harinya tahun 2013. Gak lama lagi tahun depan.
Gak pernah ada yang tahu maunya Tuhan apa. Biar dipikirkan, ditelusuri, otak kita tidak akan  pernah nyampe sama maunya Tuhan. Apa aja bisa terjadi, apa aja mungkin terjadi.

Sampai tulisan ini dibuat, saya masih terus nanya ke dalam diri saya, nanya ke Tuhan, apa yang salah, apa yang seharusnya diubah.

No comments:

Post a Comment