Hmmm.... saya prihatin sama anak jaman sekarang... (berasa tua), kenapa semakin bertambah jaman, mereka lebih senang mengeluh ya? Mungkin menurut mereka mengeluh itu sama dengan curhat tapi entah dengan siapa sehingga ga ada yang protes dengan umpatan model apapun... Oke, saya juga sedang mengeluh sekarang, mengeluhkan tentang keadaan ini saja... hahaha Sebenernya saya baru saja baca wall seorang mahasiswa di sebuah grup yang isinya kurang lebih mengeluh karena tugas kuliah yang segunung. Ini cukup menggelitik sih, sampe-sampe saya posting tulisan ini, haha. Yah wajar sih tugasnya segitu, karena kami memang anak eksak. 6 praktikum tiap minggu. Padahal kuliah Cuma 5 hari dalam seminggu. Waktu praktikum yang ga kenal hari (jam 1 pagi juga praktikum), laporan yang menggunung dan semuanya menuntut untuk dikerjakan semuanya bersama, belum lagi tugas terstruktur dari dosen. Untuk disiplin ilmu yang kami dalami, praktikum, laporan, tugas terstruktur, dan ehmm... apalah itu bentuknya, adalah bagian dari kegiatan kuliah kami, dalam mengejar nilai dan pemahaman (seharusnya). Baiklah, mengejar nilai. Sayangnya sebagian orang tua tidak mau tau seberapa paham kita di kuliah tapi seberapa pintar kita dilihat dari hasil belajar kami yaitu nilai. Tapi, percuma aja nilai itu tanpa pemahaman (asik bahasanya tua). “Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri”. Itu tadi tulisan yang saya baca di sebuah note. Orang tua atau siapapun pastinya mengukur segala sesuatu dari capaian keberhasilan, bukan proses yang diukur dengan kepuasan. Proses itu memang berat, yaa proses yang berat itu pastinya bakal bikin kita merasa jauh...jauh...jauh... jauuuuh... lebih puas apalagi bisa melewatinya dengan hasil atau tanpa hasil. Tapiii... sekarang dipikir deh, apanya yang enak sih kalo kita bisa dapet nilai bagus tanpa usaha? Tanyain deh sama yang suka nyontek, apa mereka puas sama nilai yang mereka dapet? Mungkin puas, tapi yakin nih puas? Saya pikir sih enggak. Mereka yang berfikir kalo tugas yang menumpuk, laporan yang sepertinya bisa membunuh waktu mereka adalah hal yang sia-sia. Demi nilai mereka terpaksa menikmati semua tugas itu, lalu mengumpat-ngumpat ga jelas memaki semua laporan dan ber dalih bahwa laporan yang menumpuk cuma metode konvensional yang ga bisa bikin mereka tambah pinter tapi Cuma buang waktu mereka demi nilai. Mereka percaya kalo laporan itu ga bakal membawa mereka sukses. Cuma bikin capek aja. Mahasiswa sekarang merasa dibodohi dengan semua itu, apalagi memaki-maki asistenpraktikum (yang ngasih tugas dan laporan) dan menganggap mereka balas dendam atas apa yang dilakukan asisten sebelumnya dan ngelampiasin semua ke adik angkatan... ya ampun, (saya asisten dan saya sedih dianggap seperti itu hiks). Karena ga semua yang mereka pikir bener, jadi image asisten buruk semua. Laporan adalah tolok ukur seberapa paham kita terhadap praktikum. Praktikum dianggap membuang waktu di UKM atau kegiatan lain... Hey, kita dikirim jauh-jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu. UKM memang penting, saya merasakan banyak hal bermanfaat dari UKM. Tapi jangan sampe keluar steatment ‘UKM jangan sampe mengganggu kuliah’. Sebenernya sih soal gimana kita bagi waktu aja. Apa kabar tuh ‘mahasiswa berprestasi’? mereka yang IPKnya tetep bisa cumlaude tapi masih berkarya untuk kegiatan-kegiatan non akademik, pastinya mereka bekerja keras untuk itu. Mereka memang ‘perfect’, dan ‘nobody perfect’. Kemampuan otak orang memang berbeda, ga semua orang bisa jadi sempurna kaya mereka. Tapi apa salahnya mencoba ‘sempurna’, setidaknya kalo ga tercapai kita masih ada di satu tingkat dibawah ‘sempurna’ kan? Kalo kita berusaha untuk mencapai angka 100 misal kita gagal minimal kita bisa dapet 70. Beda kalo kita Cuma ingin mencapai angka 50, misalpun kita berhasil, kita cuma sampe angka itu (Dream Catcher, Alanda Khariza). Semua orang-orang berhasil itu tidak sekejap lalu dilahirkan berhasil kan? Mungkin daripada buang waktu pusing menyusun kata-kata yang indah untuk mengkritik sesuatu di jejaring sosial, lebih baik lagi kalo kerjakan saja tugasnya. Jangan terus-terusan menyalahkan dimana kita sekolah, atau kenapa jalan ini yang kita tempuh, apalagi menyesali nasib ‘kesasar’ dan salah jurusan. Salah lo sendiri masuk jurusan ini, kalo ga suka kenapa lo ga cabut aja dari awal? Karena terkadang kita terjebak dalam hal yang ga kita suka, dan tanpa sadar mungkin saja hal itu yang membuat kita sukses kelak. Apa salahnya sih menikmati proses ini. Kalo kita bisa ngelewatin ini semua dengan hasil yang memuaskan kan yang menikmati manfaatnya kita juga. Pinter-pinternya kita mengambil manfaat aja sih intinya. Jadi inget kata2 kakak angkatan, “kapan lagi ngerasain kaya gini, mumpung jadi mahasiswa, toh belum ada orang mati gara-gara praktikum dan orang tangannya putus karena laporan”. Asik banget tuh steatment, saya sepaham deh sama yang nulis. Ketika kita jadi orang sukses nanti, pasti lucu inget masa susahnya kita bikin laporan, susah nyari jurnal, pusing translate jurnal, malem2 praktikum. Tau ga kalo manis itu akan kerasa manis karena ada yang pahit.... ^^ With love Frasiskanurul
follow blog saya
ReplyDeletehttp://www.zanhaqqi.net/
udah saya follow, makasiih ^^
Delete