Wednesday, March 18, 2015


Saya suka sekali melakukan perjalanan sendirian, karena dengan begitu saya jadi punya waktu dengan diri saya lebih banyak dan mengakrabi bagian terdalam dalam diri yang gak pernah saya dapatkan karena perginya rombongan
Ini bukan tulisan tentang travelling, jalan-jalan ke tempat-tempat disisi lain Indonesia atau dibelahan bumi lain. Saya belum sekaya itu...

Mungkin baru sekarang-sekarang ini saya sering melakukan perjalanan ke suatu tempat ‘sendirian’. Yah tau sendiri kan gimana tabiat cewek ketika harus pergi ke suatu tempat bahkan ke kamar mandi sekalipun harus rombongan. Dulu kalau mau pergi sendirian pasti males karena gak ada temennya. Tapi sejujurnya rasa males pergi sendirian itu lebih karena saya terlalu takut dengan tatapan, dan sugesti sembunyi-sembunyi dari mereka kalau lihat ada orang kok mau ke mall aja sendirian, kok makan sendirian, ke kamar mandi sendirian, ini orang mati gaya apa gimana, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal itu Cuma pikiran kita yang kegeeran aja. Kalau kita udah jalan ditengah keramaian, mau kita sendiri, mau kita rame-rame, orang lain gak akan peduli satu sama lain, sibuk dengan urusannya.

Enaknya dari melakukan perjalanan sendirian saya gak harus memikirkan perasaan orang untuk diajak berdiskusi, tentang ‘enaknya makan dimana nih?’, ‘berangkat jam berapa kita?’ yang gak jarang itu menghalangi langkah kita untuk berjalan lebih jauh, atau sederhananya mungkin malah akan menghambat waktu kita.

Melakukan perjalanan sendirian akan membuat saya memerhatikan sekitar, dan saat saya melihat sesuatu yang menarik mau tak mau saya jadi bertanya pada diri sendiri dan akhirnya melakukan dialog dengan diri sendiri, pikiran saya jadi bebas melayang kemana saja. Saat itulah saya akan merasa saya menemukan saya yang sebenarnya yang justru selama ini bersembunyi bersama ketakutan-ketakutan dalam diri saya.
Dan saya semakin suka naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Kalau harus pergi ke rumah saudara ditempat yang jauh, saya jadi lebih milih untuk melakukan perjalanan secara terpisah dengan keluarga. Keluarga berangkat dari rumah, dan saya dari kosan nyusul naik kendaraan umum. Saya lebih suka kereta dibanding shuttle yang spacenya terlalu sempit untuk kendaraan umum. Shuttle saya pikir terlalu pribadi dan terlalu sempit untuk mempelajari orang-orang didalamnya. Kalau pulang mudik ke rumah saya lebih suka naik kereta dan muter lewat jalur utara dari pada naik shuttle dengan pemandangan yang itu-itu aja. Meskipun waktunya jadi lebih lama artinya saya juga punya waktu lebih lama dengan diri sendiri, punya keleluasaan untuk ngobrol dengan banyak orang baru. Dan yang paling penting dari melakukan perjalanan sendirian dengan kendaraan umum adalah kita jadi bisa kenal orang baru lewat pembicaraan-pembicaraan yang kita ciptakan saat di jalan. Seperti dengan seorang ibu yang sepertinya single parent dengan 3 orang anaknya yang masih sekolah tapi tidak tinggal bersama saat saya naik bus menuju magelang, saya belajar bahwa menjadi orang tua tunggal itu jelas tidak mudah.  Dengan ibu guru SMP saat perjalanan menuju Sragen, yang handphonenya mati-mati terus dan enggan beli baru karena itu hadiah dari anaknya dan meminta saya ‘dengan polosnya’ memperbaiki hpnya yang mati karena tua, lah saya emang ada tampang tukang reparasi? Hahaha, tapi saya jadi tau kalau ibu menghargai sepenuh hati pemberian kita sekecil apapun. Dengan seorang ibu muda dengan anaknya yang baru 6 bulan dikereta menuju purwokerto, yang luarbiasa sabar dan repot saat harus mudik sendirian tanpa suami. Dia suka sekali ngobrol dan banyak cerita tentang orang tua dan keluarganya dan sangat bersyukur dengan keluarga barunya apapun keadaan ekonominya. Dengan seorang bapak supir angkot diperjalanan ke terminal bus bulupitu purwokerto yang punya dua orang anak gadis yang dua-duanya pintar dalam kesederhanaan hidupnya. Saya belajar bahwa sederhana lah dalam berucap dan hebatlah dalam bertindak dari obrolan saya dengan si bapak angkot.
Dengan beberapa pertemuan saya dengan berbagai macam orang dan beraneka macam obrolan, saya jadi sangat percaya diri bahwa jalan sendirian itu gak masalah karena kita gak perlu teman yang kita kenal baik untuk diajak ngobrol di jalan biar gak mati gaya, tapi orang-orang asing yang kita temui dalam perjalanan bisa jadi merekalah yang punya banyak pelajaran hidup yang lebih berharga dari sekedar rame-rame jalan rombongan sambil haha-hihi sama sahabat.

No comments:

Post a Comment