Saya suka sekali melakukan perjalanan sendirian, karena dengan begitu saya jadi punya waktu dengan diri saya lebih banyak dan mengakrabi bagian terdalam dalam diri yang gak pernah saya dapatkan karena perginya rombongan
Ini bukan tulisan tentang travelling, jalan-jalan ke
tempat-tempat disisi lain Indonesia atau dibelahan bumi lain. Saya belum sekaya itu...
Mungkin baru sekarang-sekarang ini saya sering melakukan
perjalanan ke suatu tempat ‘sendirian’. Yah tau sendiri kan gimana tabiat cewek
ketika harus pergi ke suatu tempat bahkan ke kamar mandi sekalipun harus
rombongan. Dulu kalau mau pergi sendirian pasti males karena gak ada temennya. Tapi
sejujurnya rasa males pergi sendirian itu lebih karena saya terlalu takut
dengan tatapan, dan sugesti sembunyi-sembunyi dari mereka kalau lihat ada orang
kok mau ke mall aja sendirian, kok makan sendirian, ke kamar mandi sendirian,
ini orang mati gaya apa gimana, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal itu Cuma
pikiran kita yang kegeeran aja. Kalau kita udah jalan ditengah keramaian, mau
kita sendiri, mau kita rame-rame, orang lain gak akan peduli satu sama lain,
sibuk dengan urusannya.
Enaknya dari melakukan perjalanan sendirian saya gak harus
memikirkan perasaan orang untuk diajak berdiskusi, tentang ‘enaknya makan
dimana nih?’, ‘berangkat jam berapa kita?’ yang gak jarang itu menghalangi
langkah kita untuk berjalan lebih jauh, atau sederhananya mungkin malah akan
menghambat waktu kita.
Melakukan perjalanan sendirian akan membuat saya
memerhatikan sekitar, dan saat saya melihat sesuatu yang menarik mau tak mau saya
jadi bertanya pada diri sendiri dan akhirnya melakukan dialog dengan diri
sendiri, pikiran saya jadi bebas melayang kemana saja. Saat itulah saya akan
merasa saya menemukan saya yang sebenarnya yang justru selama ini bersembunyi
bersama ketakutan-ketakutan dalam diri saya.
Dan saya semakin suka naik kendaraan umum daripada kendaraan
pribadi. Kalau harus pergi ke rumah saudara ditempat yang jauh, saya jadi lebih
milih untuk melakukan perjalanan secara terpisah dengan keluarga. Keluarga berangkat
dari rumah, dan saya dari kosan nyusul naik kendaraan umum. Saya lebih suka
kereta dibanding shuttle yang spacenya terlalu sempit untuk kendaraan umum. Shuttle
saya pikir terlalu pribadi dan terlalu sempit untuk mempelajari orang-orang
didalamnya. Kalau pulang mudik ke rumah saya lebih suka naik kereta dan muter
lewat jalur utara dari pada naik shuttle dengan pemandangan yang itu-itu aja. Meskipun
waktunya jadi lebih lama artinya saya juga punya waktu lebih lama dengan diri
sendiri, punya keleluasaan untuk ngobrol dengan banyak orang baru. Dan yang
paling penting dari melakukan perjalanan sendirian dengan kendaraan umum adalah
kita jadi bisa kenal orang baru lewat pembicaraan-pembicaraan yang kita
ciptakan saat di jalan. Seperti dengan seorang ibu yang sepertinya single
parent dengan 3 orang anaknya yang masih sekolah tapi tidak tinggal bersama
saat saya naik bus menuju magelang, saya belajar bahwa menjadi orang tua
tunggal itu jelas tidak mudah. Dengan ibu
guru SMP saat perjalanan menuju Sragen, yang handphonenya mati-mati terus dan
enggan beli baru karena itu hadiah dari anaknya dan meminta saya ‘dengan
polosnya’ memperbaiki hpnya yang mati karena tua, lah saya emang ada tampang
tukang reparasi? Hahaha, tapi saya jadi tau kalau ibu menghargai sepenuh hati
pemberian kita sekecil apapun. Dengan seorang ibu muda dengan anaknya yang baru
6 bulan dikereta menuju purwokerto, yang luarbiasa sabar dan repot saat harus
mudik sendirian tanpa suami. Dia suka sekali ngobrol dan banyak cerita tentang
orang tua dan keluarganya dan sangat bersyukur dengan keluarga barunya apapun
keadaan ekonominya. Dengan seorang bapak supir angkot diperjalanan ke terminal
bus bulupitu purwokerto yang punya dua orang anak gadis yang dua-duanya pintar
dalam kesederhanaan hidupnya. Saya belajar bahwa sederhana lah dalam berucap
dan hebatlah dalam bertindak dari obrolan saya dengan si bapak angkot.
Dengan beberapa pertemuan saya dengan berbagai macam orang
dan beraneka macam obrolan, saya jadi sangat percaya diri bahwa jalan sendirian
itu gak masalah karena kita gak perlu teman yang kita kenal baik untuk diajak
ngobrol di jalan biar gak mati gaya, tapi orang-orang asing yang kita temui
dalam perjalanan bisa jadi merekalah yang punya banyak pelajaran hidup yang
lebih berharga dari sekedar rame-rame jalan rombongan sambil haha-hihi sama
sahabat.
No comments:
Post a Comment